Prof. Dr. Subur Budhisantoso dan Prof.Dr. Ir. Radi A Gany punya pendapat yang sama bahwa visi, pemikiran dan apa yang telah dilakukan di Ma’had Al-Zaytun ini sebuah paradigma baru, yang jauh menerobos (melampaui) apa yang telah dipikirkan dan dilakukan di banyak tempat. Lembaga pendidikan ini, mereka sebut sebagai pelopor pembangunan untuk masyarakat. “Al-Zaytun sudah sepantasnya mendapat penghargaan kalpataru,” ujar Prof Subur Budhisantoso.
Visi Syaykh Al-Zaytun tentang Indonesia yang kuat dengan landasan lima nilai dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, yang dalam kesempatan itu dipaparkan dan kampus ini telah diimplementasikan, mendapat kekaguman tersendiri bagi kedua anggota Watimpres itu. “Sebagai guru besar biasanya kita yang menguliahi orang, hari ini kita mendapat kuliah berharga dari Syaykh Al-Zaytun,” ujar Prof. Dr. Ir. Radi A Gany, yang juga ditimpali Prof. Dr. Subur Budhisantoso. “Itu sebuah pradigma baru,” kata mereka.
Perayaan tahun baru hijriyah 1 Muharam di Mahad Al-Zaytun memang selalu meningalkan makna dan kesan mendalam. Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang biasanya selalu memiliki pesan-pesan mulia dan ide-ide orisinil nan cemerlang. Pesan-pesan yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun yang mendengarnya.
Pada puncak perayaan 1 Muharam 1430 H di Masjid Rahmatan lil Alamin beberapa waktu lalu, Syaykh dalam taushiyahnya memesankan agar lima dasar negara Indonesia diyakini sebagai ajaran Ilahi dan harus dijalankan dengan baik. Dalam kesempatan itu, Syaykh juga menyosialisaikan sorgum yang multiguna kepada seluruh umat.
Kemudian, khusus kepada dua tamu dari anggota Dewan Penasihat Presiden, Syaykh menitipkan sebuah ide kepada Presiden, agar dari Sumatera ke Jawa dibuka transportasi massal berupa pembangunan jalur kereta api dari Banda Aceh sampai Denpasar Bali melalui Pantai Selatan Jawa.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan tahun baru hijriyah 1 Muharam 1430 H yang bertepatan dengan 29 Desember 2008 M, di kampus Al-Zaytun dipusatkan di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Sedari pagi, sebagian besar umat sudah datang berbondong-bondong ke masjid berkapasitas 150 ribu jemaah itu. Selain para santri dan keluarganya, guru, eksponen Al-Zaytun dan penduduk desa sekitar, perayaan kali ini juga dihadiri kaum muslim dan muslimat yang tergabung dalam berbagai kelompok pengajian dan majelis taklim dari Tanah Air dan negeri jiran Malaysia, serta beberapa pejabat dan tokoh nasional.
Sebagaimana dalam setiap kesempatan, khutbah maupun taushiyah Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang selalu dirindukan umat, demikian halnya pada perayaan 1 Muharam ini, taushiyah atau sambutan Syaykh dianggap merupakan puncak dari perayaan, ditambah sambutan dari sejumlah tamu kehormatan seperti disebutkan di atas.
Dalam perayaan yang diikuti 19.000-an jemaah itu, Prof. Dr. Ir. Radi A Gany yang mendapat kesempatan pertama memberikan sambutan, mengaku, kehadirannya di Mahad Al Zaytun ibarat mimpi yang menjadi kenyataan. Pria berkacamata dengan seragam abu-abu ini mengaku sudah lama ingin datang ke Al Zaytun namun baru saat itu bisa kesampaian.
Tentang Al Zaytun sendiri, menurut pengakuannya sudah lama diketahuinya melalui berbagai artikel. Karena itu, setelah melihat Al Zaytun dari dekat ditambah lagi dengan penjelasan dari Syaykh, dia mengaku sangat takjub dengan teknologi pertanian dan peternakan yang sedang dikembangkan Al-Zaytun. Juga sangat kagum atas visi Al-Zaytun tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang bermuara pada Indonesia harus kuat.
Menurut anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) bidang pertanian ini, Al-Zaytun sangat tepat fokus mengembangkan pertanian karena sektor ini merupakan tumpuan bangsa-bangsa. Pertanian bukan hanya sekadar pengorganisasian SDM dan SDA serta teknologi, tetapi pertanian mengandung pengertian adanya ketergantungan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Pada kesempatan itu, pria berusia 71 tahun itu mengemukakan, pada tahun 1430 H kita tidak boleh mengeluh dalam menghadapi berbagai masalah tetapi harus siap menanganinya sebagaimana yang dilakukan Al-Zaytun. “Dalam menghadapi berbagai krisis termasuk pemanasan global, saya melihat Syaykh AS Panji Gumilang menanggapinya dengan tepat yaitu mengembangkan varietas-varietas tanaman dan menanam sorgum. Lembaga pendidikan ini pelopor pembangunan untuk masyarakat,” ungkapnya. Prof. Dr. Subur Budhisantoso juga menguraikan hal lain seperti masalah pemanasan global dan pergeseran peta ekonomi dunia yang mulai direbut oleh China dan India.
Sementara Ir. Oman Suherman dari Perum Perhutani, dalam kata sambutannya mengatakan, sangat berterimakasih karena diberi kesempatan memberikan kata sambutan di depan ribuan umat yang mengikuti perayaan tersebut. Dalam kesempatan itu, Suherman mengatakan bahwa apa yang diperbuat instansinya dalam kerjasama antara Al-Zaytun dan Perhutani yang meminjamkan lahan seluas 200 hektare untuk lahan penanaman sorgun, belumlah seberapa dibandingkan apa yang diperbuat Al-Zaytun. Saat itu, dia mengakui kehebatan Syaykh dalam memimpin pengembangan pembudidayaan berbagai tanaman serta pelestarian lingkungan. Bahkan dia mengatakan, bahwa dirinya hanya meminjam ilmu dari Syaykh Al-Zaytun.
Sedangkan Camat Gantar Wasga Ciptowibowo SH, M.Si dalam kata sambutannya mengucapkan terimakasih atas kehadiran Mahad Al-Zaytun di daerahnya. Kepada semua tamu, khususnya kepada dua anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Camat yang mengaku mewakili Bupati Indramayu ini menyatakan kebanggaannya pada kehadiran kampus Al-Zaytun. Menurutnya, nama Kecamatan Gantar, bahkan Kabupaten Indramayu, sering terangkat di forum provinsi bahkan di forum nasional baik di bidang pendidikan maupun bidang lainnya karena keberadaan Al-Zaytun di daerah itu.
Menurut Syaykh, Indonesia beruntung dengan keberagaman yang dimiliki. Dan sangat beruntung lagi karena memiliki falsafah dan dasar negara yang sangat bagus, sebuah falsafah yang berlaku universal. Dikatakan, lima dasar negara Indonesia adalah ajaran ilahi yang harus dijalankan dengan baik. Tidak boleh menyimpang. Dasar pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menurut Syaykh adalah ajaran ilahi yang mengatakan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang percaya kepada Tuhan, yang mengandung arti bahwa setiap warga berhak untuk memeluk satu agama sesuai kepercayaaan atau keyakinan masing-masing.
Namun kata Syaykh, sampai saat ini hal tersebut belum terwujud dengan benar. Syaykh mencontohkan, masih ada agama yang tidak memiliki tempat ibadah di negara ini, seperti agama Kong Hu Chu. Dengan nada tinggi Syaykh mengatakan, tidak boleh ada pihak yang mengklaim bahwa keyakinannya yang paling benar dan merasa berhak menekan kepercayaan pihak yang lain karena tidak sesuai dengan keyakinannya.
Pada kesempatan itu, Syaykh juga menjelaskan keempat dasar negara lainnya satu persatu sambil mengaitkannya pada berbagai peristiwa aktual di Indonesia dan dunia. Khusus untuk dasar negara kelima yakni “mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” menurut Syaykh adalah tujuan bangsa ini. Maka karena itu, keadilan dalam segala bidang harus menjadi milik semua warga negara tanpa membedakan suku, agama, ras, dan asal daerahnya.
Hal lain yang tidak kalah menarik adalah ajakan Syaykh agar petani (Indonesia) mulai menanam sorgum. Bagi Syaykh, sorgum sangat berpotensi untuk mewujudkan Indonesia yang kuat. Selain bisa dijadikan sebagai bahan pangan, sorgum bisa diolah menjadi bio-etanol untuk menggantikan bahan bakar fosil yang semakin menipis. Syaykh juga mengingatkan betapa sangat mendesaknya pembangunan infrastruktur terutama jalan di pedesaan. Untuk itu, Syaykh mengusulkan dibangun jalan kereta api lintas selatan dari Aceh sampai Denpasar. Dengan demikian, perekonomian daerah-daerah bagian selatan yang selama ini redup bisa menyala terang.
Puncak perayaan Tahun Baru Hijriyah diakhiri dengan ketulusan para kaum muslimin dan muslimat serta undangan yang datang dari berbagai penjuru Indonesia dan negeri jiran yang spontan naik ke mimbar untuk memberikan sodakoh, baik dari pribadi maupun kumpulan, demi kelanjutan pembangunan pendidikan sistem satu pipa di kampus Al-Zaytun yang bermoto Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian.
Malam Menjelang Tahun Baru
Sebelum perayaan puncak 1 Muharam, sebagaimana setiap tahunnya, keluarga besar Al-Zaytun selalu mengundang warga desa sekitar kampus untuk temu ramah mesra. Demikian halnya pada perayaan kali ini, memasuki pukul 20.00 atau menjelang malam tahun baru, masyarakat sekitar kampus Al-Zaytun sudah berduyun-duyun berkumpul di Masjid Al-Hayat -salah satu masjid di lingkungan kampus. Ada yang datang sendiri-sendiri sebab rumahnya dekat-dekat sekitar kampus. Ada pula yang dijemput oleh sejumlah armada pengangkut karena mereka berasal dari desa yang agak jauh dari kampus namun tetap dari Kecamatan Gantar, Indramayu juga.
Dengan santun Syaykh mengingatkan agar dalam pesta demokrasi Indonesia (pemilu) tahun 2009 nanti, warga jangan lupa menggunakan haknya untuk memilih wakilnya di lembaga legislatif, maupun presiden dan wakil presiden.
Kemudian, Syaykh juga banyak membesarkan hati umat yang kebanyakan bekerja sebagai petani. Syaykh menyatakan krisis yang menghadang di tahun 2009, tidak memberi pengaruh kepada para petani di desa. Sebab petani sudah terbiasa menghadapi krisis terutama saat musim paceklik. Walau demikian, Syaykh tetap berpesan agar warga tetap bersabar, karena jika tidak sabar, bisa berpikir yang tidak baik terhadap milik orang lain yang akhirnya akan membuat diri sendiri menderita karena harus menanggung hukuman. “Kalau tidak sabar menanam selama dua bulan, tangan akhirnya gerayang harta orang, akibatnya bisa dihukum lebih dari dua bulan,” ujar Syaykh.
Syaykh juga mengingatkan kembali kalau petani di Indonesia kuat, maka Indonesia menjadi kuat. Dalam hal itu, Syaykh menjelaskan soal tanaman sorgum dan berbagai manfaat yang bisa didapat. Di samping dua pesan tersebut, selaku tokoh pendidikan, Syaykh juga tak lupa memesan agar warga tak lupa memerhatikan pendidikan anak-anak mereka.
Di akhir pesannya, Syaykh menyinggung tentang boboko, sajian makanan khas Indramayu yang terdiri dari kue-kue, nasi yang dicampur sayur-sayuran dan daging ayam/sapi yang ditaruh di sebuah bakul bambu. Sambil bercanda Syaykh mengatakan, boboko bagi sebagian warga menjadi pertanda berkah. Tidak sedikit warga yang memperlakukan boboko sebagai jimat hingga panen tiba. Pernyataan Syaykh ini membuat warga yang mendengar tertawa malu.
Syaykh kemudian menaikkan doa penutup dan mempersilakan warga untuk menerima boboko yang sudah disiapkan oleh para santri di dua pintu masuk masjid. Mimik senang dan lega setelah menerima boboko terpancar dari wajah warga. Para santri yang membagi-bagikan boboko tidak kalah gembiranya menunaikan pelayanannya. Ibu Fitriah (50) seorang janda dari desa Salam misalnya, mengaku merasa sangat senang dengan adanya acara temu ramah mesra yang disertai dengan pembagian boboko ini. “Saya sudah tiga kali datang merayakan malam tahun baru di sini,” ujar ibu Fitriah sambil menenteng pulang boboko yang baru diterimanya. (Berita Indonesia 64)



0 Komentar