Kutipan di atas sebagai penegasan sikap dan prinsip dasar dari Syaykh al-Zaytun AS Panji Gumilang tentang mutlak pentingnya Persatuan Indonesia, sebagai salah satu nilai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kemerdekaannya diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebab, menurut Syaykh, kalau persatuan ini hancur, jangan harap Indonesia akan tegak di masa mendatang.
Hal itu disampaikan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang dalam pidato peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-65, di Kampus Al-Zaytun, Selasa (17/8), yang kemudian dipertegas dalam Khutbah ‘Ied Al-Fithri 1431 H / 2010 M di Kampus Al-Zaytun, 01 Syawal 1431 H / 10 September 2010.
Syaykh Al-Zaytun mengatakan Indonesia, negara kita yang menakjubkan, ini telah dipersatukan oleh Nilai-Nilai Dasar Negara yang dapat mengikat keanekaragaman yang ada. Maka, menjadi tanggung jawab bersama penduduknya yang majemuk namun beriman kepada Tuhan, menjaga keutuhan dan kebersatuannya. Tidak ada satu golongan pun yang paling berhak untuk menjaga dan mempertahankan, melainkan semuanya sama dalam memikul kewajiban dan haknya masing-masing.
“Kita sebagai umat beriman bangsa Indonesia harus terus meningkatkan pemahaman kita akan tanggung jawab bersama bangsa ini, bahu membahu mewujudkan dan memelihara persatuan bangsa. Sepahit apapun cobaan yang menghadang bangsa ini, kita tidak layak lemah dalam persatuan bangsa. Sebab, tanpa persatuan bangsa yang kokoh jangan pernah berharap kita dapat mewujudkan kesepakatan untuk maju menjayakan bangsa,” seru Syaykh Panji Gumilang.1
Penegasan ini memperkaya inspirasi dalam rangkaian tulisan ‘Al-Zaytun Sumber Inspirasi’ Bagian Kedelapan ini. Sebagaimana telah diuraikan dalam bagian ketujuh (Berita Indonesia Edisi 77), yang merupakan prolog Indonesia Cerdas dan Kuat, sebagai tema pokok dari rangkaian tulisan ‘Al-Zaytun Sumber Inspirasi’ dalam seri berikutnya, bahwa bagian kedelapan ini memaparkan perihal Persatuan Indonesia yang cerdas dan kuat di bawah judul: Persatuan (Pelangi Keberagaman), Kunci Kemajuan Bangsa.
Persatuan yang kita maksudkan dalam kesempatan ini adalah Persatuan Indonesia, sebagai nilai dasar ketiga dari lima nilai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagaimana dikemukakan Syaykh Panji Gumilang bahwa persatuan adalah gabungan yang terdiri atas beberapa bagian yang telah bersatu. Persatuan Indonesia adalah suatu landasan hidup bangsa atau sistem, yang selalu mementingkan silaturahim, kesetiakawanan, kesetiaan, dan keberanian.2
Persatuan sebagai gabungan yang terdiri atas beberapa bagian (berbagai ragam) yang telah bersatu. Bukan beberapa bagian (berbagai ragam) yang dijadikan satu atau disatukan dengan meniadakan keberagaman. Tetapi, keberagaman yang bersatu atau bersatu dalam keberagaman atau persatuan dalam keberagaman. Sehingga menjadi amat indah laksana pelangi3.
Demikian halnya manusia, yang dalam konteks Persatuan Indonesia, dijadikan bersatu dalam suatu bangsa dan negara, terdiri dari berbagai suku dan ras, ada kulit sawo matang, kuning, hitam dan putih yang diciptakan oleh Sang Pewarna Teragung. Juga ada yang memiliki rambut lurus, ikal, dan keriting, pilihan Sang Khalik Penata Rambut Teragung. Demikian pula memiliki mata lebar, bulat, dan sipit, kreasi Ahli Mata Agung.
Dan, semua manusia ciptaan Sang Khalik Agung itu, tak ada yang sama persis. Semua unik, dan beragam dalam eksistensinya sebagai manusia. Semua memiliki kelebihan dari yang lain. Semua juga memiliki kekurangan dari yang lain. Sehingga kelebihan yang dimiliki seseorang dapat mengisi kekurangan orang lain. Demikian pula sebaliknya, kekurangan seseorang dapat diisi oleh kelebihan orang lain.
Sebagaimana berulangkali ditegaskan Syaykh al-Zaytun, keberagaman adalah sunatullah. Allah menciptakan manusia berkelompok-kelompok, dengan kekhasannya masing-masing. Kekhasan atau karakteristik yang beragam bersatu padu mencerdaskan dan menyejahterakan bangsa, tanpa harus (dipaksa) dibaurkan atau diseragamkan demi kesatuan.
Sebagaimana pelangi yang merupakan keberagaman komponen pantulan cahaya matahari dalam keharmonisan dan keindahan aneka warna, demikian pula Persatuan Indonesia yang merupakan gabungan komponen keberagaman pulau, suku, ras, bahasa, budaya, aliran kepercayaan, agama, dan golongan berpadu dalam keharmonisan dan keindahan.
Sehingga Syaykh al-Zaytun menyebut bahwa Indonesia adalah satu keajaiban dunia,4 tempat bersatunya ribuan pulau, suku, bahasa dan budaya. Yang sangat indah dianalogikan dengan pelangi, untuk menggambarkan Persatuan Indonesia yang hakiki. Hal mana karakteristik masing-masing komponen tidak harus ditonjolkan, dihilangkan, atau diseragamkan. Sebab keanekaragaman adalah suatu kekayaan dan keniscayaan.
Masing-masing komponen punya peran dan keunggulan tersendiri. Indah laksana pelangi, di mana warna (komponen) mayoritas pun tidak memaksakan atau mendominasi komponen lain. Hal mana, menurut Syaykh, kehadiran Indonesia dan bangsanya di muka bumi ini bukan untuk bersengketa. Tetapi, Indonesia wujud dan hidup untuk mewujudkan kasih sayang sesama bangsa maupun antarbangsa.
Dalam kaitan ini, Syaykh Panji Gumilang menyerukan pentingnya ‘Menggalang Solidaritas Sesama Bangsa’5: “…… mari kita yakini bahwa kita bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang majemuk, majemuk dalam kesukuan, keagamaan, ras, dan golongan, namun menyatu dalam kebangsaan, yakni Indonesia. Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya kecuali yang hidupnya dapat lebih bermanfaat dan menyebarkan manfaat bagi kemaslahatan hidup bangsanya dan manusia pada umumnya.”
Solidaritas yang dimaksudkan oleh Syaykh al-Zaytun adalah, sifat satu rasa, senasib, setia kawan, dan lain-lain. Hal mana, menurutnya, sifat solider semacam ini baru akan timbul jika kita telah menyatu dalam pola pikir dan sistem berpikir bersumber dari dasar yang sama, yakni nilai-nilai dasar negara Indonesia yang telah disepakati.
Syaykh berkeyakinan, dengan didukung oleh potensi-potensi yang dimiliki oleh warga bangsa dan didukung oleh rasa solidaritas yang tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan, maka harapan kita untuk masuk ke dalam masa depan yang cerah dalam wujud Indonesia Cerdas dan Kuat, menjadi sangat mungkin untuk wujud.
Harapan memasuki masa depan bersama yang cerah dalam bentuk Indonesia menjadi cerdas dan kuat merupakan pengharapan akan kemuliaan masa depan dan keselamatannya. Syaykh Panji Gumilang menyebut harapan akan keselamatan ini adalah sebuah “topi baja” suatu bagian yang paling penting dari pakaian besi untuk perang melawan kejahatan kemanusiaan.
Harapan yang Syaykh maksudkan, tidaklah seperti layang-layang, yang tergantung kepada angin yang berubah-ubah, melainkan seperti “sauh jiwa yang tetap mantap dan tidak berubah”, menembus jauh ke dalam alam abadi yang tidak nampak. Ini maknanya, kita harus membuang jauh-jauh rasa cemas menyongsong hari esok. Sebab, menurut Syaykh, hari esok ada dalam genggaman Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Syaykh berkeyakinan, dengan bermodalkan solidaritas sesama bangsa dan sikap toleransi yang tinggi antara sesama warga bangsa, dan dengan Kekuatan Besar serta kasih sayangNya, akan memampukan kita berbuat hal-hal yang besar, bahkan melebihi apa yang telah kita perbuat selama ini, untuk mengatasi kesulitan, tantangan dan krisis yang menghimpit secara nasional maupun global. Bahkan, kita diberi kemampuan melihat masa depan, ke suatu masa di mana kita akan terus mengambil bahagian untuk kestabilan dan ketertiban dunia.
Memang, sebagaimana juga dikemukakan Syaykh, bahwa belakangan ini kita merasakan, betapa banyak tantangan bangsa yang masih harus dihadapi. Ekonomi belum dapat dikatakan maju, politik masih terus mencari hakekat bentuk, sosial budaya masih terus tertatih-tatih, pertahanan negara, darat, laut, dan udara masih belum dapat dibanggakan.
Namun, Syaykh menegaskan, kalaulah dalam beberapa hal itu masih kita rasakan lemah, ada satu hal yang sama sekali tidak boleh lemah, itulah persatuan bangsa, persatuan negara. “Satu saja, yang lain boleh lemah, tapi persatuan tidak boleh lemah. Nanti dengan persatuan itu, yang lain akan bangkit semua,” kata Syaykh Panji Gumilang dalam percakapan dengan Wartawan Berita Indonesia (10 September 2010).
Syaykh memberi contoh: Uni Soviet hancur, Yugoslavia, hancur dan Cekolosvakia hancur. “Tapi sekarang setelah hancur dan didirikan negara-negara kecil, mereka mau mengadakan unifikasi lagi. Enggak enak negara cuma secuplik gitu. Lha, kita yang masih gagah ini jangan pernah bercita-cita berkeping-keping,” urainya.
Maka, kata Syayakh, kita harus terus berseru dan wujudkan Indonesia Bersatu. Sebab, melalui persatuan itulah kita mewujudkan konsensus untuk maju di segala bidang.
Syaykh Panji Gumilang menyerukan, dengan semangat iman, kita harus saling menebar kasih sayang sesama bangsa, saling menjunjung tinggi martabat masing-masing, umat menghormati pemimpinnya, rakyat mematuhi pemerintahnya, pemerintah melindungi ketentraman, keamanan, dan kesejahteraan rakyatnya. “Jangan terjadi rakyat gelisah oleh sikap dan tindakan pemerintahnya. Jangan terjadi satu golongan menindas, mengintimidasi, dan meneror satu golongan lainnya hanya karena perbedaan kepercayaan dan keyakinannya,” kata Syaykh.6
Kebanggaan Identitas Indonesia
Persatuan Indonesia, urai Syaykh Al-Zaytun, bukan sebuah sikap maupun pandangan dogmatik dan sempit, namun harus menjadi upaya untuk melihat diri sendiri secara lebih objektif dengan dunia luar. Suatu upaya untuk mengimbangi kepentingan diri dengan kepentingan bangsa lain, atau dalam tataran yang lebih mendalam antara individu bangsa dan alam sejagad, yang merupakan suatu ciri yang diinginkan sebagai warga dunia.
Persatuan Indonesia, urai Syaykh Al-Zaytun, bukan sebuah sikap maupun pandangan dogmatik dan sempit, namun harus menjadi upaya untuk melihat diri sendiri secara lebih objektif dengan dunia luar. Suatu upaya untuk mengimbangi kepentingan diri dengan kepentingan bangsa lain, atau dalam tataran yang lebih mendalam antara individu bangsa dan alam sejagad, yang merupakan suatu ciri yang diinginkan sebagai warga dunia.
Syaykh al-Zaytun berkeyakinan, persatuan Indonesia seperti ini, akan menghantar rakyat Indonesia memiliki kebanggaan yang tulus tentang identitas mereka sebagai warga negara maupun warga dunia. Menurutnya, pandangan dan sikap seperti ini tidak akan melenyapkan ciri-ciri unggul suatu bangsa, malahan akan dapat memantapkan ciri-ciri unik sebuah masyarakat bangsa, yakni masyarakat bangsa yang sadar terhadap tanggung jawab global, bersatu dalam mewujudkan persatuan universal, masing-masing menyumbangkan keistimewaannya.
Persatuan Indonesia seperti ini, dalam pandangan Syaykh, akan mampu menyingkirkan permusuhan internal bangsa, sebab pencapaiannya tidak melalui kekuatan militer, melainkan melalui tuntutan ilmu, dan peradaban yang membudaya dalam kehidupan masyarakat. Persatuan Indonesia yang berpegang pada prinsip bahwa kemajuan kebudayaan dapat menyamai nilai-nilai universal, sehingga dapat menjadi kekuatan yang dapat mengangkat harkat martabat rakyat untuk menjadi warga negara dan seterusnya warga dunia yang baik.
Persatuan Harus Ditegakkan
Berulang kali dan dalam berbagai kesempatan Syaykh mengemukakan, sebagai bangsa, dalam bernegara, sesungguhnya kita telah memiliki landasan dasar yang kokoh yang mumpuni, sebagai landasan strategi budaya, strategi mengelola cara berpikir, bertindak, bereaksi lokal, nasional, maupun global.
Berulang kali dan dalam berbagai kesempatan Syaykh mengemukakan, sebagai bangsa, dalam bernegara, sesungguhnya kita telah memiliki landasan dasar yang kokoh yang mumpuni, sebagai landasan strategi budaya, strategi mengelola cara berpikir, bertindak, bereaksi lokal, nasional, maupun global.
Mungkin, kata Syaykh AS Panji Gumilang, yang harus ditata ulang adalah ketaatan dan keberpihakan serta kesetiaan bangsa terhadap asas dan dasar negara yang telah disepakati bersama. Mungkin sebagai bangsa, belum sepenuhnya konsen, untuk meletakkan dasar-dasar negara ini sebagai suatu sistem yang utuh, sehingga tindakan yang dilakukan, orientasinya selalu belum, bahkan tidak berpihak kepada dasar-dasar yang telah disepakati.
Maka, dalam pidato Peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-65, di Kampus Al-Zaytun, Selasa (17/8/2010), Syaykh menegaskan Persatuan Indonesia harus ditegakkan! “Kita tidak boleh pecah, kita tidak boleh hancur, Indonesia harus tegak sampai kapan pun,” pekik Syaykh yang disambut tepuk tangan lebih 7500 peserta upacara.
Menurut Syaykh, persatuan Indonesia adalah satu modal yang kita miliki untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Kalau persatuan Indonesia hancur, maka nanti apa yang kita cita-citakan akan lebur. “Hanya satu, satu saja, yakni persatuan Indonesia,” seru Syaykh. Kalau persatuan ini hancur sambung Syaykh, jangan harap Indonesia akan tegak di masa mendatang.
“Wahai generasi muda, tanamkan pada dirimu, kalau hari ini generasi yang sekarang belum mampu menunjukkan persatuan, kamu semuanya generasi penerus yang harus mampu mewujudkan persatuan Indonesia. Ini modal satu-satunya, sebab yang lain belum mampu kita tampilkan. Persatuan, persatuan dan persatuan harus kita tegakkan,” pekik Syaykh disambut tepuk tangan riuh seluruh peserta upacara.
Contohnya, di dalam pertahanan militer bangsa ini belum mampu membanggakan diri karena tidak memiliki berbagai sarana pertahanan yang mumpuni baik pertahanan laut, udara, maupun darat. Bukan itu saja, di sisi politik bangsa ini masih terus mencari bentuk. Terlebih lagi di sisi ekonomi yang dirasakan dari hari ke hari pergerakan perekonomian juga belum mampu tegak dan stabil.
Meski demikian, Syaykh mengajak seluruh hadirin bersyukur kepada Allah Swt atas karunia kemerdekaan yang telah berumur 65 tahun ini. Sejatinya kemerdekaan ini tidak jatuh gratis dari langit, tapi ditebus dengan perjuangan panjang para mujahid, pahlawan dan para pendiri bangsa dan Negara Indonesia.
Syaykh juga mengajak generasi penerus mengisi kemerdekaan Negara Indonesia. Juga untuk ikut berkiprah bersama-sama warga lainnya dalam mengisi dan mengimplementasikan dasar-dasar negara yang telah digariskan oleh para pendiri bangsa. Dan mendalami memikirkan ke depan, mempersiapkan untuk ke depan sebuah persiapan di mana Indonesia ini supaya tegak dan tetap tegak berdiri sampai kapan pun. Wujudkan hari ini! Hidup Indonesia! Bersatu Indonesia! Tegak Indonesia!”
Bejalar Hidup dalam Keberagaman
Persatuan Indonesia adalah keberagaman, yang disemboyankan dengan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu. Namun, dalam usia 65 tahun negara Republik Indonesia, tampaknya tidak bisa begitu mudah terwujud tanpa adanya kesadaran pada perbedaan dan keberagaman itu.
Di antara anak bangsa ini (individu atau kelompok) masih acapkali tidak menyukai adanya perbedaan. Bahkan bila kita tidak sama dengannya, atau berbeda dengannya, masih dianggap sebagai musuh. Bahkan, ironisnya, masih ada penganut agama yang menjadikan agama sebagai sumber pertikaian, bahkan pertikaian pada tahap ‘kill or to be killed’.
Persatuan Indonesia adalah keberagaman, yang disemboyankan dengan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu. Namun, dalam usia 65 tahun negara Republik Indonesia, tampaknya tidak bisa begitu mudah terwujud tanpa adanya kesadaran pada perbedaan dan keberagaman itu.
Di antara anak bangsa ini (individu atau kelompok) masih acapkali tidak menyukai adanya perbedaan. Bahkan bila kita tidak sama dengannya, atau berbeda dengannya, masih dianggap sebagai musuh. Bahkan, ironisnya, masih ada penganut agama yang menjadikan agama sebagai sumber pertikaian, bahkan pertikaian pada tahap ‘kill or to be killed’.
Kondisi masih rendahnya kesadaran atas persatuan dalam keberagaman ini, sering kali menjadi kegalauan tersendiri bagi Syaykh al-Zaytun. Oleh sebab itulah sejak awal dia mempersiapkan dan mendirikan lembaga pendidikan Islam yang bermotto: Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian. Sebab, menurutnya, salah satu cara (jalan) utama (terbaik) untuk menumbuhkan kesadaran tentang perbedaan (keberagaman) adalah pendidikan.
Maka dia pun bersama seluruh eksponen Al-Zaytun mendedikasikan diri untuk mendidik anak bangsa supaya lebih memiliki kecerdasan mengaplikasikan budaya toleransi dan perdamaian dalam keberagaman bangsa ini. Toleransi di kampus ini tidak sekadar diajarkan dan diwacanakan menjadi rumusan-rumusan yang didefenisikan. Tetapi benar-benar diimplementasikan dan dibudayakan dalam keseharian.7
Proses penumbuhan kesadaran, penghargaan dan pengimplementasian toleransi dan perdamaian dalam keberagaman itu menyatu dalam sistem pembelajaran dan keseharian Al-Zaytun. Sebagai suatu contoh kreatif proses pembelajaran hidup bermasyarakat dalam keberagaman yang dilakukan Al-Zaytun, setiap kali liburan.
Sesuai sistem pembelajaran Al-Zaytun yang menganut sistem semester, libur belajar tentu saja mengikuti sistem itu pada setiap akhir semester, masing-masing selama 30 hari. Libur semester ganjil pada bulan Desember dan libur semester genap pada bulan Juni. Awal tahun pembelajaran adalah pada setiap 1 Juli, semester ganjil dihitung mulai 1 Juli sampai akhir Desember. Semester genap dihitung mulai Januari sampai akhir Juni.
Namun, libur semester bagi santri Al-Zaytun bukanlah untuk bermalas-malasan, berleha-leha ataupun berfoya-foya di kampung halaman atau di tempat lain. Melainkan, libur bagi santri adalah bermakna belajar di kampung halaman, khususnya dalam menebar misi toleransi dan perdamaian.
Maka pelepasan libur semester dilakukan dalam suatu upacara resmi. Bahkan sebelumnya, dalam beberapa malam para santri dibekali dengan tausiyah dari Syaykh dan beberapa eksponen Al-Zaytun, agar para santri memanfaatkan libur secara optimal sebagai kesempatan belajar di kampung halaman, bersosialisasi serta menjadi duta toleransi dan perdamaian.
Maka pelepasan libur semester dilakukan dalam suatu upacara resmi. Bahkan sebelumnya, dalam beberapa malam para santri dibekali dengan tausiyah dari Syaykh dan beberapa eksponen Al-Zaytun, agar para santri memanfaatkan libur secara optimal sebagai kesempatan belajar di kampung halaman, bersosialisasi serta menjadi duta toleransi dan perdamaian.
Santri dibekali dengan latihan langsung untuk memahami dan menghayati motto Al-Zaytun sebagai Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Budaya Perdamaian. Mereka dibekali untuk menebar misi toleransi dan perdamaian kepada semua orang tanpa membedakan agama, suku, golongan, dan berbagai bentuk pengelompokan masyarakat lainnya.
“Jika kamu bertemu teman yang beragama Nasrani, kasih salam, ucapkanlah selamat hari Natal, Merry Christmas. Jabatlah tangan mereka dan ucapkan mudah-mudahan persahabatan kita kekal sepanjang zaman. Bila bertemu dengan teman dari Suku Tionghoa dalam merayakan hari raya Imlek, ucapkan, Gong Xi Fa Cai. Ini namanya pergaulan di dunia sebagaimana Rasulullah sangat santun kepada tetangganya, tidak kira dia Nasrani atau Yahudi,” kata Syaykh dalam bagian tausiyahnya menjelaskan makna toleransi dan perdamaian secara luas.
Di samping itu, santri yang pulang berlibur diberikan tugas untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Pada saat berlibur itu mereka dibekali untuk belajar mengaplikasikan ilmu dan disiplin yang diterima selama belajar di Al-Zaytun. Kepada para santri diberikan tips-tips praktis dalam berinteraksi dengan masyarakat. Para santri dibekali bagaimana bersikap dan apa yang harus dilakukan sejak meninggalkan kompleks Al-Zaytun hingga tiba di kampung halaman dan di tengah keluarga masing-masing.
Bagaimana para santri seharusnya berakhlakul karimah kepada orang tua, keluarga dan lingkungan dalam hidup keseharian. Para santri ditekankan untuk mampu bertoleransi dengan handai taulan di kampung, baik yang beragama Islam maupun beragama lainnya. “Tak hanya kepada umat agama lain tetapi juga terhadap perbedaan (khilafiyah) ibadah ritual yang seringkai diributkan sebagian orang, seperti perbedaan raka’at dalam shalat tarawih dan pemakaian qunut dalam shalat Subuh. Ikuti saja, pakai qunut atau tidak pakai qunut, tidak menjadi penyebab masuk surga atau neraka,” jelas Syaykh al-Zaytun.
Santri juga dibekali perihal situasi di masyarakat bahwa ada yang suka dan tidak suka dengan Al-Zaytun. Bagaimana menghadapi orang yang tidak suka dengan Al-Zaytun? Sikap para santri adalah tidak boleh memaksa-maksakan pendapatnya. “Sudah, biarkan saja orang belum suka, kamu berdoa saja Allahummahdi kaumi fainnahum la ya’lamuun, mereka belum paham,” ujar Syaykh Panji Gumilang. Yang jelas, kata Syaykh, tunjukkan sikap sebagai santri yang sudah ditempa menjadi kader yang harus menerapkan budaya toleransi dan perdamaian dalam praktik keseharian, dimulai dari diri sendiri hingga pada lingkungan sekitar.
Maka dalam rangka libur sebagai bagian dari tugas belajar di kampung halaman, panitia libur Al-Zaytun membuatkan format agar santri mencatat apa saja yang mereka lakukan, apa yang mereka ceritakan serta komentar apa dari orang yang mereka ajak berdialog selama di kampung halamannya.
Bukan hanya dengan cara dan saat berlibur Al-Zaytun mengajarkan dan mengaplikasikan penghargaan pada keberagaman. Berulang kali, kampus ini memancar cahaya persaudaraan, damai, dan toleransi ke seluruh penjuru bumi. Sudah beberapa kali di pondok pesantren modern ber-setting internasional, ini berlangsung event persahabatan monumental yang pantas diukir dalam sejarah kehidupan keberagamaan di Indonesia. Sejumlah umat beriman, Islam dan Kristen, berjumpa dan bersukacita membuka hati dalam kebersamaan dan persaudaraan tanpa melihat perbedaan. Saling memberi dan saling mendoakan sesuai iman dan kepercayaan masing-masing.
Sudah berulang kali sejumlah umat Kristiani dan umat Islam, berkumpul bersama di kampus ini, saling mendoakan, makan bersama, berolahraga bersama, bahkan bernyanyi sambil bergandengan tangan untuk menyatakan bahwa mereka adalah satu kasih, bersahabat dan bersaudara.
Tepatlah gambaran event persahabatan ini, seperti disebut Syaykh Panji Gumilang, merupakan laboratorium toleransi dan perdamaian namun bukan dalam skala penelitian melainkan dalam skala produksi yang terdistribusikan ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia.
Tepatlah gambaran event persahabatan ini, seperti disebut Syaykh Panji Gumilang, merupakan laboratorium toleransi dan perdamaian namun bukan dalam skala penelitian melainkan dalam skala produksi yang terdistribusikan ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia.
“Ini adalah laboratorium yang harus kita buat antarkita semua dan kita ekspos kepada generasi muda Indonesia yang akan meneruskan kepemimpinan bangsa di masa depan agar meneladani, mampu mencontoh apa yang telah dibuat dan dicontohkan dalam laboratorium persatuan dan kerukunan umat beragama di Indonesia melalui Al-Zaytun dan Koinonia ini,” kata Syaykh Panji Gumilang, menyambut hangat dan mesra kedatangan Pdt. Rudolf Andreas Tendean, Ketua Majelis Jemaat Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Koinonia Jakarta, bersama rombongan sebanyak kurang lebih 200 orang, Sabtu 31 Juli 2004, sebagai kunjungan balasan, setelah tanggal 7 Juli 2004, Syaykh Abdussalam Panji Gumilang sudah berkunjung ke Gereja GPIB Koinonia.9
Pada kesempatan itu, dari depan altar gereja, Syaykh di hadapan ratusan jemaat menyampaikan visi dan misi Al-Zaytun. Dijelaskan bahwa Al-Zaytun adalah sebuah lembaga pendidikan milik umat beriman bangsa Indonesia, ber-setting internasional, bersemangat pesantren dan bersistem modern serta bermotto sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian. Al-Zaytun Sumber Inspirasi Bagian Kedelapan Oleh: Ch. Robin Simanullang



0 Komentar