Peringatan Proklamasi Kemerdekaan ke-62 Republik Indonesia di kampus Al-Zaytun berlangsung hikmat dan meriah. Jika di tempat lain upacara bendera dimulakan saat detik-detik proklamasi pukul 10.00, namun upacara bendera di Al-Zaytun yang diadakan di Stadion Palagan Agung dimulakan pukul 07.00 pagi. Sinar matahari sedang hangat-hangatnya saat inspektur upacara Syaykh AS Panji Gumilang memulai upacara yang diikuti lebih dari 10 ribu orang ini. Rupanya, santri MI, MTs. MA, mahasiswa, karyawan, guru-guru, para dosen dan eksponen YPI (Yayasan Pesantren Indonesia), yang mengikuti upacara itu, mulai menyemut berjalan beriring-iringan menuju lapangan Palagan Agung sejak pukul 05.30 pagi.
Para santri mengenakan busana daerah masing-masing, berurutan dari Aceh, Riau, Sumbar, Sumsel, Bengkulu, Lampung, Jambi, Jabarsel, Jabarut, Banten, Pusat (Al-Zaytun dan sekitarnya), DKI Jaya, Jaksel, Jakpus, Jakut, Jaktim, Bekasi, Jakbar, Tangerang, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, Kalbar, Kalsel, Kalteng, Kaltim, Sulsel, Sulteng, Sutra, Sulut, Maluku, Irja, pelajar luar negeri: Malaysia, Afrika Selatan, Somalia, Singapura, barisan terakhir mahasiswa dan santri MI.
Upacara berjalan dengan hikmat. Seluruh peserta upacara benar-benar meresapi dan memaknai kebesaran bangsa Indonesia saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Bendera Merah Putih sebagai lambang negara berkibar-kibar agung di tengah kampus pendidikan terpadu seluas 1.200 hektar itu. Sebuah bendera yang memiliki makna filosofis. Merah berarti berani, putih berarti suci. Merah melambangkan tubuh manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan untuk Indonesia. Di tengah keheningan, Syaykh A.S. Panji Gumilang mengajak peserta upacara untuk menundukkan kepala sejenak, mendoakan para pahlawan, pejuang yang merintis kemerdekaan Indonesia dan penerus perjuangan Indonesia Raya masa kini dan masa mendatang.
Saat menyampaikan taushisyah/amanatnya dalam memaknai peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Syaykh A.S. Panji Gumilang mengatakan, kemerdekaan merupakan karunia besar dari Tuhan yang diberikan kepada manusia selain Tanah Air dan negara. Dengan pemilikan tanah air dan negara itu, manusia bisa memiliki identitas suatu bangsa. Dengan identitas dan kebangsaan itu manusia dapat melakukan interaksi antarbangsa.
Oleh sebab itu kata Syaykh, memperingati berdirinya sebuah bangsa dan negara Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 merupakan suatu peringatan sejarah untuk menggali, menelusuri, serta melaksanakan cita-cita kemerdekaan. Bangsa Indonesia sudah memiliki sebuah negara, Indonesia sudah memiliki identitas, yaitu bangsa Indonesia, yang mampu berinteraksi secara internasional atau antarbangsa. Namun perlu dipahami bahwa negara dan bangsa tidak serta merta menghantar rakyatnya untuk menjadi bangsa yang sukses. Kesuksesan suatu bangsa tergantung kreativitas penduduk dan bangsa itu sendiri.
Setelah 62 tahun merdeka, kita telah memiliki landasan dasar sebuah negara. Tidak perlu didiskusikan lagi, melainkan ideologi bangsa itu harus dilaksanakan dalam bentuk realisasi sehari-hari. “Kita sudah tidak lagi diskusi tentang hal-hal yang ideologis sebab kita harus memiliki kecemerlangan dan kecerdasan berpikir, ketangguhan jiwa, dan kreativitas dalam memandang masa depan dengan landasan yang telah dimiliki bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia dalam banyak hal telah memiliki ketangguhan-ketangguhan, namun ketangguhan itu, tidak serta merta menghantar bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik, bila rakyatnya tidak memiliki kreativitas yang tinggi,” tegas Syaykh.
Syakh mengajak segenap pelajar, mahasiswa dan jajaran Al-Zaytun supaya meningkatkan kreativitas untuk membangun jiwa dan raga bangsa Indonesia ini. “Anak-anakku sebagai generasi penerus bangsa Indonesia, kalian harus meningkatkan kreativitas, daya inovasi untuk membangun jiwa, dan membangun badan bangsa Indonesia, agar mampu dipersembahkan untuk Indonesia Raya dalam interaksi internasional atau antarbangsa,” pesan Syaykh dalam amanatnya. Dalam interaksi antarbangsa itulah bangsa-bangsa diuji kemampuannya, mereka akan mendapatkan prestasi dan nilai keunggulan, masing-masing berdiri sama tinggi dalam percaturan antarbangsa. Pergaulan antarbangsa bisa dijalin oleh bangsa yang memiliki kreativitas tinggi, berpendidikan, berilmu pengetahuan, menguasai sains dan selalu mengikuti perkembangan zaman.
Menutup taushiyahnya, Syaykh berdoa, “Semoga kita semua diberi kekuatan lahir dan batin, jiwa dan raga, fisik maupun mental untuk hidup mengarungi perkembangan zaman yang sungguh menakjubkan dan cepat dalam perjalanan dari hari ke hari. Semoga Tuhan memberkati kita semua, memberkati bangsa Indonesia dan memberkati umat manusia yang cinta damai dan toleran. Marilah kita mengisi kemerdekaan Indonesia Raya dengan kreativitas yang tinggi dan terus menambah ilmu pengetahuan. Ilmu itu terus bergerak tanpa dapat dihentikan oleh siapapun, karena pada hakekatnya ilmu adalah hak yang diberikan Tuhan kepada umat manusia.”
Perayaan dan peringatan Proklamasi Kemerdekaan ke-62 Republik Indonesia terus berlanjut hingga malam hari dengan digelarnya Pentas Seni Pelajar di gedung serba guna Al-Akbar. Selain lagu-lagu pop yang nge-trend di kalangan remaja, pada pentas seni itu didendangkan pula lagu-lagu dan tarian daerah. Bahkan pada kesempatan itu, dilangsungkan pula fashion show menampilkan aneka ragam baju daerah yang ada di seluruh nusantara. AZ (Berita Indonesia 45)



0 Komentar