Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Enerji Penggerak Kemajuan Bangsa

Ketua Umum Partai Demokrat Anas UrbaningrumWAWANCARA KETUA UMUM PARTAI DEMOKRAT ANAS URBANINGRUM: Al-Zaytun kami nilai sebagai salah satu potensi bangsa. Kalau ini bisa sinergi dengan Partai Demokrat, berarti energi positif ini bisa menjadi tenaga penggerak kemajuan bangsa.
Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum didampingi Sekjen, Edhie Baskoro Yudhoyono dan beberapa pengurus Partai Demokrat lainnya, Kamis 17 Maret 2011 berkunjung ke Mahad Al-Zaytun di Kecamatan Gantar, Indramayu, Jawa Barat. Sebagai pengurus teras partai, kunjungan yang dilakukan pada saat masih jauh dari musim kampanye ini menjadi menarik.
Untuk mengetahui latar belakang, kesan dan hasil dari kunjungan tersebut, Ch. Robin Simanullang bersama Marjuka Situmorang dan Bantu Hotsan dari Majalah Berita Indonesia mewawancarai Anas Urbaningrum di kediamannya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu 23 Maret 2011. Berikut petikan wawancara tersebut.
Apa kesan Bung Anas terhadap Al-Zaytun, khususnya setelah berkunjung ke sana?
Saya kenal Al-Zaytun sudah lama tapi belum pernah hadir kunjungan, silaturahim. Karena itu, yang paling pokok buat saya adalah silaturahim dengan Syaykh dan seluruh keluarga besar Al-Zaytun. Dan saya ingin tahu, melihat langsung seperti apa Mahad Al-Zaytun yang sudah mashyur, terkenal itu.
Saya membuktikan dengan hadir di sana bahwa memang pesantren Al-Zaytun itu punya nilai yang khas, pesantren modern yang dikelola dengan baik. Dan saya kira, menjadi salah satu aset pendidikan nasional dan aset kemajuan bangsa.
Bagaimana pandangan Bung Anas dengan visi yang Al-Zaytun usung, yakni sebagai pusat pendidikan toleransi dan perdamaian?
Itu kan dua isu yang penting. Toleransi itu mutlak dibutuhkan untuk bangsa yang majemuk. Indonesia ini bangsa yang majemuk, masyarakatnya majemuk. Tanpa toleransi, konflik akan mudah pecah. Pertentangan akan mudah muncul. Karena itu, tradisi toleransi harus dibangun.
Membangun tradisi toleransi, salah satunya lewat pendidikan. Ditanamkan sejak dini lewat jalur pendidikan bahwa saling toleransi pada masyarakat yang majemuk itu sesuatu yang mutlak dibutuhkan. Perdamaian tentu sama, isu yang sangat penting. Bukan hanya dalam konteks nasional tapi juga dalam konteks hubungan internasional.
Toleransi itu juga basis untuk membangun perdamaian. Perdamaian itu juga basis untuk terus menerus mengembangkan toleransi. Jadi saya kira dua spirit itu sebetulnya menyatu dan penting untuk dikembangkan. Jadi kalau Al-Zaytun mengusung dua visi itu di dalam pendidikannya, menurut saya akan punya kontribusi yang besar bagi Indonesia masa depan.
Sepanjang pengetahuan Bung Anas, bagaimana implementasinya atau pelaksanaannya selama ini?
Dari pola komunikasi yang terbangun selama ini antara Al-Zaytun dengan masyarakat luas, saya kira dipraktekkan. Yang penting itu kan, nilai-nilai spirit itu bukan dipajang, tetapi dipraktekkan. Al-Zaytun yang terbuka, Al-Zaytun yang membuka diri, bergaul dengan masyarakat luas, itu menjadi tanda bahwa Al-Zaytun berikhtiar mempraktekkan spirit dasar itu.
Mungkin Bung Anas juga mengetahui bahwa masih ada yang kurang bisa memahami kehadiran mahad ini. Bagaimana pendapat Bung Anas mengenai hal itu?
Itu bukan sesuatu yang aneh. Hal seperti itu harus diterima sebagai realitas. Yang penting adalah terus melakukan ikhtiar berkomunikasi, mengomunikasikan apa yang dilakukan oleh Al-Zaytun. Kemudian terbuka untuk didatangi oleh tamu-tamu dengan latar belakang yang beragam. Dan yang paling penting adalah Al-Zaytun membuktikan secara terus menerus, misinya itu betul-betul untuk membangun toleransi dan perdamaian, dan juga menjadi lembaga pendidikan yang konsisten memproduksi SDM-SDM yang berkualitas. Kalau itu konsisten dilakukan, ya itulah jawabannya. Sejarah nanti akan membuktikan.
Tentang isu NII yang dikaitkan dengan mereka, bagaimana Bung Anas melihatnya?
Saya tidak ingin masuk dalam konteks politik ya. Saya hadir di sana, salah satu menu sambutannya adalah lagu Indonesia Raya. Lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan dengan bersemangat, dengan penghayatan yang tinggi, buat saya itu punya nilai keindonesiaan yang tinggi. Buat Partai Demokrat, NKRI itu final. Dan menurut saya, Indonesia juga memandang NKRI itu final.
Dalam tampilan seperti itu, Al-Zaytun dalam pengamatan Bung Anas juga komit terhadap NKRI?
Iya, yang saya temui di sana seperti itu. Yang saya temukan ketika silaturahim, seperti itu. Dan yang paling penting adalah keluarga besar Al-Zaytun membuktikan dalam pemikiran, sikap dan perilaku sosial, perilaku politik sehari-hari, bahwa NKRI itu final. Jawaban yang paling manjur itu adalah dengan bukti-bukti yang nyata.
Kalau komitmen dengan NKRI dibuktikan, contohnya, saya temukan misalnya di sana usaha merintis varietas baru kacang tanah, kacang kedelai, padi. Itu buat saya, komitmen kepada bidang pertanian, komitmen pada petani, komitmen kepada rakyat kecil, komitmen untuk memajukan bangsa. Jadi menurut saya, tidak perlu fokus pada debat verbal, tapi yang penting bekerja saja membuktikan apakah pekerjaan itu baik untuk Republik atau tidak. Kalau baik untuk Republik berarti berkomitmen untuk Republik, untuk NKRI.
Jadi kalau saya, hanya sesederhana itu.
Berkunjung ke Al-Zaytun oleh Ketua Umum Partai Demokrat, bagaimana pun bernuansa politik. Apa harapan Partai Demokrat setelah kunjungan itu?
Politik bagi Partai Demokrat itu bukan semata-mata pemilu. Bukan semata-mata perolehan suara, bukan semata-mata perolehan kursi. Itu politik yang sempit. Tentu semua partai berpikir tentang itu, termasuk Partai Demokrat. Tapi konsep politik Partai Demokrat lebih besar dari itu. Politik Partai Demokrat itu adalah bekerja yang terbaik untuk bangsa. Karena prinsipnya itu, maka kami ingin membangun sinergi dengan seluruh kelompok di Indonesia, seluruh eksponen bangsa di Indonesia untuk sama-sama memajukan bangsa. Karena itu, kami hadir silaturahim ke Al-Zaytun yang kami nilai sebagai salah satu potensi bangsa. Kalau ini bisa sinergi dengan Partai Demokrat, berarti energi positif ini bisa menjadi tenaga penggerak kemajuan bangsa. Begitupun dengan kelompok-kelompok masyarakat yang lain. Pesantren-pesantren yang lain.
Jadi kalau ada sinergi dan semuanya bekerja untuk kepentingan bangsa, itulah politik yang terbaik. Apalagi kalau kemudian punya manfaat langsung kepada penguatan eksistensi partai. Punya manfaat langsung untuk dukungan terhadap eksistensi Partai Demokrat tentu kami merasa bersyukur kalau itu bisa dilakukan. Tetapi itu hanya bagian kecil dari politik Partai Demokrat.

Kemudian ada pembicaraan bahwa kehadiran Bung Anas itu memang sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, tetapi Bung Anas bilang datang membuka baju, datang bersilaturahmi antara junior kepada seniornya. Apa maknanya?
Anas Urbaningrum (kanan) ketika wawancara dengan Berita Indonesia di kediamannya, 23 Maret 2011Iya, silaturahmi itu kan substansinya dalam. Dan nilai silaturahmi itu mengatasi segala-galanya. Dalam satu ikatan partai, tetapi kalau tidak ada silaturahmi yang kuat, ia kehilangan makna. Belum menjadi satu keluarga besar partai, tetapi kalau silaturahminya terbangun dengan baik, itu maknanya penting sekali. Saya memegang etika dan akhlak Timur, etika dan akhlak Islam, bahwa yang muda itu menghormati yang lebih tua. Karena itu, salah satu spirit saya dan kawan-kawan hadir ke Al-Zaytun adalah karena saya lebih muda dan beliau lebih senior. Jadi kalau junior sowan ke senior dan menyampaikan rasa hormat, itu bagian dari etika. Dan buat saya, itu nilainya jauh lebih penting dari hal-hal yang simbolik, seperti baju, jaket, atau bendera.
Tetapi yang saya agak surpraise, beliau mempersiapkan diri dengan sangat-sangat maju. Buat saya, baju beliau, baju biru itu, punya makna dan pesan politik yang penting. Itu menurut saya bagian dari kearifan politik dari Syaykh.
Tadi Bung Anas bilang, kalau sinergi ini dipadukan untuk membangun bangsa ini. Itu idealnya, tapi secara praktis harus terus menerus ada penggalangan dalam rangka dukungan tadi. Apa langkah Partai Demokrat berikutnya?
Tentu intesitas silaturahim akan dijaga dan ditingkatkan. Bahkan sudah ada follow up yang dirintis. Misalnya, akan menanam 5 ha kacang dengan varietas yang bagus. Ketika panen nanti, kami akan hadir lagi untuk panen raya. Juga sedang dikembangkan ormas Masyarakat Indonesia Membangun, nah itu juga nanti bisa sinergi di seluruh Indonesia, jaringan itu untuk bekerja memajukan daerah. Yang lain-lain tentu sambil jalan bisa dilakukan. Buat saya yang paling penting adalah, karena setrumnya sudah ketemu, baterainya sudah nyambung. Kalau sudah seperti itu, soal kegiatan lebih pada soal teknis di lapangan. Intinya adalah, setrumnya sudah nyambung.
Dalam rencana Bung Anas, bagaimana ormas Masyarakat Indonesia Membangun yang dibina Syaykh itu akan disinergikan dengan Partai Demokrat?
Sinergi yang terbaik itu kan berbasis visi. Kalau visinya sama, maka untuk membangun bangsa, untuk membangun Indonesia, tinggal nanti diterjemahkan di dalam program aksi dan kegiatan. Kalau nyambung, di dalam kegiatan-kegiatan, menurut saya itu sesuatu yang sudah sangat positif, karena partai itu kan kegiatannya bukan hanya politik. Partai itu kegiatan sosial, kegiatan kemasyarakatan, kegiatan keagamaan. Kegiatan-kegiatan nonpolitik kan banyak sekali. Jadi bisa nyambung di sana.
Atau ormas, kegiatannya kan tidak hanya nonpolitik. Ormas itu juga ada kegiatan yang berwajah politik. Itu juga bisa disambungkan. Yang penting adalah sudah ada kesepahaman tentang sinergi. Sekali lagi, bentuk-bentuk kegiatan itu soal teknis operasional dari sinergi itu yang tidak sulit untuk dilakukan.
Bukan mengecilkan arti Bung Anas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, tapi pengaruh Ketua Dewan Pembina di Partai Demokrat itu masih sangat kuat. Bagaimana kemungkinannya silaturahmi, sinergi ini bisa dikomunikasikan dengan Ketua Dewan Pembina?
Ketua Dewan Pembina (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) sudah tahu, mengerti. Tidak ada kegiatan di DPP Partai Demokrat yang beliau tidak ketahui. Dan kami melakukan itu salah satunya karena salah satu prinsip politik yang diajarkan oleh Pak SBY adalah perbanyak komunikasi, perbanyak silaturahim, kembangkan semangat persahabatan, persaudaraan dengan seluruh elemen bangsa. Karena tidak ada satu elemen bangsa pun yang layak dijauhi, apalagi dijadikan musuh. Tidak ada satu elemen bangsa pun yang kita nilai sebagai kekuatan destruktif. Semuanya adalah kekuatan yang konstruktif untuk kemajuan bangsa. Nah, prinsip-prinsip itu yang kami pegang, apalagi dengan Al-Zaytun yang selama ini sudah menampilkan diri sebagai lembaga pendidikan dan jaringan kemajuan yang berkembang di Indonesia. Karena itu, satu kata yang kemarin menjadi kesepahaman adalah rintisan untuk membangun sinergi. BI (Berita Indonesia 83)

Posting Komentar

0 Komentar