Sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan berbasis ajaran Ilahi, pesantren merupakan “Menara Air” yang mampu memberikan kesejukan dan kehidupan, “Menara Api” yang mampu memberikan penerangan dan pencerahan, serta “Menara Gading” yang mampu menjadi kebanggaan dan simbol keagungan bagi masyarakat sekitarnya.
Sejarah mencatat, kehadiran pesantren selalu membawa berkah bagi masyarakat sekitarnya. Pola hubungan yang tercipta antara pesantren dengan masyarakat sekitarnya biasanya terjalin erat, saling mengisi dan menerima laksana air dan ikan. Dalam hal ini, pesantren yang notabene merupakan pusat pengembangan ilmu pengetahuan, ibarat air yang jernih, bersih dan menghidupkan, sedangkan masyarakat adalah ikan yang memperoleh kehidupan dan beragam manfaat lain dari keberadaan pesantren tersebut.
Pola hubungan laksana “air dan ikan” ini pula yang selama ini dipraktikkan oleh Al-Zaytun.
Sejak awal didirikan, Al-Zaytun senantiasa merangkul masyarakat sekitarnya untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan mulai dari menjadi supplier material bahan bangunan, bahan pangan bahkan mengelola lahan-lahan pertanian milik Al-Zaytun. Untuk yang terakhir kali disebut, dilakukan dalam berbagai skema, dari mulai sistem sewa lahan, bagi hasil, hingga melibatkan masyarakat sebagai pekerja lepas harian maupun borongan pada lahan-lahan pertanian milik Al-Zaytun.
Masyarakat juga menyambut baik kesempatan yang diberikan Al-Zaytun tersebut. Alhasil, selain memiliki karyawan tetap yang mencapai dua ribu orang, saat ini YPI-Al-Zaytun juga mempekerjakan ratusan orang yang berasal dari masyarakat
sekitar kampus. Mereka berasal dari desa-desa di sekitar Al-Zaytun, seperti Mekar Jaya, Gantar, Tanjungkerta, Situraja dan lain-lain. Tetapi, selain dari lingkungan Kabupaten Indramayu, ada juga yang datang dari daerah yang agak jauh seperti Brebes, Jawa Tengah. Para tenaga kerja dari Brebes tersebut biasanya adalah tenaga-tenaga profesional yang khusus didatangkan untuk mengelola tanaman bawang merah.
Keberadaan para pekerja luar - istilah bagi para pekerja selain karyawan tetap - dikoordinir oleh Kelompok Tani Terpadu (KTT) I yang dipimpin langsung oleh Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang. Karena itu, para pekerja luar tersebut statusnya adalah pekerja KTT I dan khusus bekerja pada lahan-lahan yang dikelola KTT I.
Dengan demikian, segala hal yang berkenaan dengan pembayaran gaji, pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan lain sebagainya, sepenuhnya menjadi tanggung jawab KTT I. Karena harus tinggal di dalam kampus, kepada mereka juga disiapkan mess khusus yang terpisah dari mess karyawan tetap.
Untuk memudahkan koordinasi dan pembagian kerja, para pekerja luar ini dibagi dalam beberapa kelompok, meliputi: Kelompok Gantar yang dipimpin Ibu Tonih dengan anggota berjumlah 65 orang; kelompok Rancaganggang yang dipimpin Bapak Warsad dengan anggota berjumlah 70 orang; serta kelompok Brebes dengan anggota berjumlah 60 orang.
Pembagian tugasnya sebagai berikut: Kelompok Gantar dan
Rancaganggang bertugas menangani tanaman pangan seperti padi, kedelai, cabai, jagung dan sorgum; Sedangkan Kelompok Brebes khusus bertugas menangani tanaman bawang merah.
Pembagian tugasnya sebagai berikut: Kelompok Gantar dan
Kelompok Brebes, selanjutnya masih dibagi lagi menjadi tiga grup, masing-masing berkekuatan sekitar 20 orang. Grup 1 dipimpin Pak Marto yang saat ini (Februari 2010) mengelola lahan seluas 4,5 bahu (1 bahu = 7000 m2), grup 2 dipimpin Pak Wirjo yang mengelola 3,5 bahu, dan grup 3 dipimpin Pak Salim yang mengelola 3,5 bahu. Namun, berbeda dengan pengelolaan tanaman lain yang biasanya menggunakan sistem kerja lepas atau harian, untuk tanaman bawang merah ini digunakan sistem borongan. Nilainya 15 juta rupiah per bahu untuk satu musim tanam dari mulai persiapan lahan sampai panen.
Cari Kesadaran dan Pengalaman
Meski dari segi besaran upah dan lainnya tidak ada keistimewaan bekerja di lahan Al-Zaytun dibanding dengan di tempat lain, banyak pekerja luar itu merasa senang dapat ikut bekerja dan mengelola lahan pertanian milik Al-Zaytun. Karena menurut mereka, selain dapat melihat kampus Al-Zaytun dari dekat, mereka juga dapat berkenalan dengan civitas Al-Zaytun, serta mengetahui berbagai peraturan yang berlaku di Al-Zaytun. Hal-hal tersebut menurut mereka merupakan pengalaman berharga yang tidak akan ditemui di tempat lain.
Apalagi, kini usia Pak Wirjo yang sudah menginjak kepala lima dan dari keenam anaknya tinggal dua orang saja yang masih bersekolah yakni, si bungsu yang duduk di kelas VI serta kakaknya yang duduk di kelas IX, selebihnya sudah bekerja dan berkeluarga. “Ya, saya mah di sini bisa dikatakan sambil mencari kesadaranlah, supaya tahu pengalaman di sini,” ujarnya.
Alasan lain yang membuat Wirjo, Ketua Grup 2 Brebes, ini betah tinggal di Al-Zaytun adalah karena pekerjaan yang selalu ada, khususnya di musim hujan. Maklum, di daerah asalnya, saat musim hujan, pekerjaan justru cukup sulit didapat, karena sawah yang ada biasanya ditanami padi semuanya, sehingga tinggal menunggu panen saja. Pekerjaan baru kembali banyak lagi pada musim kemarau, setelah sawah-sawah dialihfungsikan menjadi lahan bawang. Meski demikian, menurut Wirjo, hal itu tidak banyak berpengaruh pada dirinya. Ia tetap saja hanya bisa menjadi buruh kasar karena dia sendiri tidak memiliki lahan walau sepetak pun. Sedangkan untuk menyewa, harganya juga, menurutnya, tidak terjangkau karena cukup mahal yakni, mencapai 10 juta per bahu untuk sewa selama satu tahun.
“Kalau masalah kerja, ya senang nggak senang, namanya juga sedang mburuh. Tapi saya cukup senang karena di sini makan sudah ditanggung. Paling-paling yang agak berat, di sini dilarang merokok. Jadi kalau kita ingin merokok, ya harus beli sendiri ke luar,” ungkapnya. Selanjutnya, menurutnya, dia juga akan melihat hasil pekerjaan mereka nanti, karena mereka memang mencari omset. Jadi, menurutnya, kalau omsetnya bagus mereka akan jalan terus, tapi kalau tidak bagus, dia mungkin berhenti.
“Kalau masalah penghasilan sih mungkin lebih baik di kampung (Brebes). Tapi namanya juga di kampung sendiri, walaupun penghasilannya besar pengeluarannya juga besar. Kalau di sini ada pemasukan, bisa ditabung. Nanti selesai nanam, bayarannya baru keluar. Jadi di sini uangnya bisa kumpul,” katanya. Jadi, bekerja di lahan Al-Zaytun, menurutnya, sip-sip saja, tidak ada masalah.
Karena jauh dari mana-mana, uang hasil jerih payahnya selama bekerja di Al-Zaytun dapat ia tabung. Paling-paling kalau ada pengeluaran hanya buat beli rokok saja, itu pun jumlahnya tak seberapa. Berbeda sekali kalau ia tinggal di Brebes, meski penghasilan yang didapat bisa lebih besar tetapi pengeluarannya juga jauh lebih besar, sehingga akhirnya habis-habis juga. “Namanya juga di kampung sendiri, walaupun penghasilannya besar pengeluarannya juga besar,” ujar pemuda lajang asal Dukuh Angon, Kelurahan kembangsari, Kecamatan Ketanggungan, Brebes itu.
Salim, Ketua Grup 3 Brebes yang sudah kedua kalinya ikut borong mengerjakan tanam bawang di Al-Zaytun yakni, dari bulan November 2009 sampai bulan Januari 2010, dan dari bulan Februari sampai bulan April 2010, mengaku karena borongan, kerjanya jadi agak lebih mending. “Yang namanya orang kerja nggak ada yang enak. Tapi karena borongan, ya agak mending, anak-anak kerjanya bisa mantap. Terus jika berangkatnya, misalnya, agak telat, juga nggak apa-apa. Kalau harian, kalau bel sudah bunyi ‘kan nggak enak,” katanya.
Bagi Salim, bekerja di Al-Zaytun ini hanyalah untuk selingan pada musim hujan, karena di Brebes belum musim menanam bawang merah. Nanti kalau musim menanam bawang merah sudah tiba, ia rencananya akan kembali lagi ke Brebes untuk menanam bawang merah, karena Salim sebenarnya memiliki sawah meski hanya seperempat hektare. “Ya, nanti kalau sudah musim bawang ya pulang ke Brebes, di sini mah hanya untuk selingan aja pak, sambil mencari pengalaman,” ujarnya.
Ibu Tonih, Ketua Kelompok Gantar yang sudah dua tahun ikut bekerja di Al-Zaytun, dan biasanya mengerjakan nandur, menanam kedelai, jagung, sorgum, ngoret dan lain-lain, juga mengaku senang bisa kerja di Al-Zaytun, bahkan berharap pekerjaan terus ada dan mereka pun terus dilibatkan. Dia dan temannya siap jika dibutuhkan borongan maupun harian. Yang penting bayarannya gampang. Dengan demikian, dia mengaku kerjaannya juga akan semangat. “Tapi kalau boleh milih sih enakan borongan, meskipun harus bawa bekal makan sendiri tapi kita kerjanya bisa lebih semangat, selesainya lebih cepat dapat uangnya juga lebih cepat,” katanya.
Larangan Merokok
Meski secara umum merasa senang, para pekerja luar ini mengaku agak sedikit berat dengan larangan merokok yang berlaku di Al-Zaytun. Menurut Wirjo, untuk yang satu itu mereka belum bisa meninggalkan secara total, paling-paling hanya mengurangi sedikit misalnya dari yang biasanya satu bungkus menjadi setengah bungkus sehari. Untungnya, menurut Wirjo, Syaykh Al-Zaytun sendiri masih memberikan toleransi. Meski demikian mereka tidak lantas seenaknya saja menghisap rokok di sembarang tempat. Bagaimanapun juga mereka sangat menghormati peraturan itu dan hanya berani merokok di tempat-tempat tertentu saja seperti di mess atau di tengah-tengah sawah yang jauh dari aktivitas pelajar.
Lain lagi, menurut Marto, selain rokok, hal lain yang terasa berat adalah lingkungan di Al-Zaytun yang berbeda dengan lingkungan kampung halamannya. Maklum, sebagai seorang pemuda lajang Marto biasa menghabiskan waktu berkumpul dan mencari hiburan bersama kawan-kawannya. Sedangkan di Al-Zaytun, ia tidak bisa leluasa pergi ke mana-mana, selain masih belum familiar dengan lingkungan mess tempat ia dan kawan-kawannya tinggal, juga jauh dari mana-mana. Meski demikian, Wirjo maupun Marto sadar betul keberadaannya di Al-Zaytun adalah untuk bekerja. Jadi, meski tidak persis seperti di kampung halamannya mereka mengaku senang dan enjoy saja. BI/AZ (Berita Indonesia 74)



0 Komentar